Sabtu, 12 Januari 2013

RAMALAN JAYABAYA TERHADAP BANGSA INDONESIA


Dari wikipedia bahasa Indonesia, Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Prabu Jayabaya, raja kerajaan Kadiri. Ramalan ini secara khusus dikenal di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga melalui kitab musasar. Prabu Jayabaya melihat sejarah bukan hanya melihat masa lalu saja, tetapi juga melihat jauh ke masa depan. Hal ini sejalan dengan pendapat modern yang mengatakan bahwa masa lalu yang kita pelajari melalui sejarah, akan bermakna jika berguna atau bermanfaat bagi masa depan.
Keadaan bangsa Indonesia pada saat ini khususnya dalam era globalisasai dimana semua unsur-unsur budaya asing yang kebanyakan mempunyai pengaruh negatif telah menjadikan bangsa Indonesia dilanda krisis multidimensi atau krisis dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan hanya itu saja, berbagai bencana juga melanda bangsa Indonesia mulai dari gempa, tsunami, longsor, banjir bandang dan masih banyak lagi bencana alam lain. Jika dihubungkan dengan Ramalan Jayabaya dan kita selidiki secara mendalam, maka banyak dari ramalan-ramalan Jayabaya yang sudah terbukti dengan adanya fenomena krisis dan bencana yang telah terjadi di negara Indonesia. Lalu, apakah semua yang telah terjadi terhadap bangsa kita akhir-akhir ini membuktikan bahwa ramalan itu benar? Ataukah hanya kebetulan saja?
Sebagai seorang muslim, maka kita tidak boleh percaya begitu saja dengan ramalan apapun. Karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak yang kuasa dan apa yang akan terjadi nanti selalu akan menjadi rahasia Ilahi dimana tidak seorangpun di dunia ini yang mengetahuinya. Nemun jika kita menjadikan Ramalan Jayabaya sebagai suatu pembelajaran diri mengenai kehidupan masa lalu, kehidupan sekarang dan kehidupan masa yang akan datang, maka itu akan sangat bermanfaat dalam memperbaiki kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurut Lelono (Gramedia Pustaka Utama, 1999), Bung Karno menggunakan kepercayaan masyarakat akan Ramalan Prabu Jayabaya untuk membangkitkan semangat keberanian yang tinggi di kalangan rakyat pada masa perjuangan. Jadi tidak heran, jika hingga kini getar suara Bung Karno itu masih terasa di denyut nadi perjuangan kita, dan sosoknya pun seperti masih bernyawa. Beberapa fakta secara garis besar yang dapat ditafsirkan sehubungan dengan Ramalan Jayabaya terhadap keadaan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.
1.      Merajarelanya korupsi di tanah air, dalam berbagai bentuk, tingkatan jabatan dan kekuasaan. Ini menandakan bahwa harta kekayaan berupa uang masih menjadi orientasi politik kekuasaan, baik itu dilakukan oleh elite politik maupun oleh masyarakat.
2.      Tidak adanya kepastian hukum. Upaya penegakan hukum masih terbentur pada kepentingan politik tertentu sehingga membawa akibat pada titik terlaksananya keadilan, juga yang lebih serius adalah tidak ditegakkannya hak asasi manusia dalam hukum.
3.      Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sosok pemimpinnya. Kecenderungan para pemimpin negara yang mementingkan diri sendiri, mengejar kehendaknya sendiri dan tidak pro rakyat berdampak pada keengganan rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam berpolitik.
4.      Kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat kecil. Konversi minyak dan kenaikan tarif tol yang berorientasi kepada kepentingan ekonomi pejabat negara. Orientasi politik elite negeri yang hanya mementingkan segelintir orang terbaca jelas dalam kebijakan-kebijakan yang dilakukan. Inilah ‘wahyu setan’ seperti yang dikatakan Prabu Jayabaya.
5.      Moralitas yang tercabik dan kesejahteraan sosial yang terbengkalai. Munculnya berbagai aksi kejahatan, pemerkosaan, perceraian, saling memfitnah, isu dan gosip, sampai isu separatisme dan disintegrasi menjadi indikasi yang jelas akan hal tersebut.
6.      Kemiskinan secara ekonomis. Kemelut ekonomi masih mendera kehidupan masyarakat, sementara tuntutan negara terhadap masyarakat melambung tinggi di luar batas kemampuan. Misalnya semakin besarnya jumlah pajak, mahalnya bahan-bahan pokok atau vital seperti sandang dan pangan. Hal ini semakin diperparah dengan situasi atau kondisi alam yang tidak memungkinkan, seperti kekeringan yang berkepanjangan dan ketakutan akan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami.
Ramalan Jayabaya yang selalu menjadi pertanyaan bagi bangsa Indonesia adalah tentang siapakah satria piningit yang akan mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia. Dimulai dari Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, sampai Susilo Bambang Yudhoyono, semua diharapkan menjadi satria piningit bagi bangsa Indonesia. Namun banyak masyarakat Indonesia yang kecewa dan akan terus menanti tokoh pemimpin yang mampu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sehingga pemimpin Indonesia dilabelkan oleh masyarakat sebagai bukan satria piningit. Jika demikian, ramalan Jayabaya hendaknya dapat kita anggap sebagai suatu nasehat bagi seluruh bangsa Indonesia untuk senantiasa aktif bekerja keras membuat tatanan Indonesia yang lebih baik, bukan hanya diam menunggu kehadiran satria piningit seperti dalam ramalan Jayabaya.

Pertanyaan:
Jika dilihat dari kacamata filsafat, apakah Prabu Jayabaya merupakan seorang filsuf yang bisa menembus ruang dan waktu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar